Babak Satu: Momen di Ruang Belajar (2016)
Semua dimulai di antara tumpukan buku dan kecemasan ujian. April 2016, kami bertemu di sebuah ruang belajar bersama, mempersiapkan apa yang kami sebut "Gerbang Menuju Masa Depan".
Hari itu, ada sesuatu yang bergetar di hati. Sulit sekali dijelaskan oleh kata-kata, tapi kami berdua mengerti. Mungkin itu yang orang-orang sebut cinta, meski rasanya lancang sekali untuk menyimpulkan secepat itu.
Takdir rupanya sedang menulis skenario. Ia bukan hanya menempatkan kami di kampus yang sama, di jurusan yang sama, tapi juga meniupkan kami ke dalam irama yang sama: Marching Band. Obrolan-obrolan ringan sepulang latihan perlahan berubah menjadi pertemanan yang terlalu akrab untuk disebut biasa.
Namun, seperti alur cerita yang baik, harus ada jeda. Mas Nug memutuskan pindah, mengejar mimpinya ke Yogyakarta. Kota itu menciptakan jarak. Perlahan, kami menjadi asing. Dua orang yang tahu terlalu banyak, namun memilih diam. Sesekali, hanya ada pesan singkat, perhatian kecil yang dikirim seperti kode rahasia, sekadar bertanya, "Apa kabarmu di sana?"